Sunday, November 18, 2012

Terimakasih warung kopi, bapak penjual kue ape, bapak penjual mochi dan ibu Dicky untuk hari ini :)

Saya mau cerita tentang betapa sialnya saya pada hari ini.

Besok hari senin, jadwalnya fisika untuk mengumpulkan makalah. Saya dan salah satu dari anggota kelompok saya, Andra Audrina merencanakan mengecek makalah yang sudah dibuat oleh kami. Sebenarnya ada anggota yang lain yaitu Andrestian Revaldi ( Dia sakit, karena kecelakaan) dan Abdurrahman D. A. ( Namanya begitu panjang, beda sekali dengan nama saya ) tanpa kabar, sehingga hanya kami berdua yang mengecek tugasnya. Kami janjian pukul 11.00 WIB di Taman IPB tapi karena cuaca hari ini memang mendung, kami putuskan di Botani.

Yang sampai duluan ternyata Andra, dia memutuskan ke dalam duluan karena di luar gerimis dan dia berencana untuk berputar-putar. Saya agak ngaret. Kenapa? saya menunggu uang ongkos yang diberikan oleh ibu saya. Ibu saya sedang keluar rumah. Karena itu jam 11 lewat sedikit saya baru naik 06, anggkotnya ngetem pula. Makin lama saja, makin ngaret saja. *geram*

Ketika angkot melewati smanti, sudah terlihat rintik-rintik hujan dan puncaknya ketika saya turun di tugu kujang, hujan sudah sangat besar. Tak sadar karena refleks mungkin, saya langsung cepat-cepat mengikuti orang lain meneduh di suatu warung kopi dekat tugu. Saya disitu sejak pukul 12.00 WIB menunggu hujan reda. Hampir satu jam saya menunggu disitu. Di belakang saya, ada orang-orang yang senasib dengan saya. Yang paling saya ingat, ada laki-laki yang mungkin lebih tua dari saya melipat celananya ke atas, menggendong tasnya ke depan badannya dan sesekali mengeluarkan champnya dengan wallpaper dia yang berpose mengenakan kacamata sambil sesekali pula 'nyerocos'. Awalnya saya ingin menyapa memulai pembicaraan, bayangkan saja betapa tidak bosan saya menunggu hujan reda tanpa adanya obrolan. Kalaupun buka handphone, signal sedang buruk. Bbm saja pending -_- tapi sebelum itu terjadi saya sudah pergi duluan mencari tempat teduh yang lain karena saya baru menyadari warung kopi tersebut bisa dikatakan basecamp lah bagi para pengamen tugu. Karena merasa tidak nyaman, saya lekas pergi.

Pada saat saya mengecek hape, ada sms dari Andra jika ia sedang ada di foodcourt dan sedang melengkapi tugas kami. Karena hujannya mulai reda, saya berniat langsung ke botani tapi....................... saya baru menyadari ketika saya melihat ke bawah OOOOOOO Tidaaaak, sepatu dan sebagian celana saya kotor penuh dengan tanah. Mirip seperti orang yang baru keluar dari kubangan atau mungkin bermain dari sawah. Seketika itu, kertas binder yang ada didalam tas saya, saya jadikan sebagai elap tapi sayangnya tidak berfungsi banyak. Tetap saja kotor. Kalaupun menitip belikan tissue atau serbet ke Andra saya malas saja menunggu di luar botani dengan keadaan seperti ini. Akhirnya dengan tegas, karena saya seorang pria saya memutuskan untuk meneduh di bekas terowongan penyebrangan. Disana saya bertemu tukang ape yang sangat mulia hatinya. Ia ramah sekali tidak ada tampang jahat dalam dirinya. Selain tukang ape, ada pemulung yang sepertinya sedang meneduh juga. Sekitar beberapa menit disana menghabiskan kertas binder untuk mengelap sepatu dan celana tapi, itu semua tidak merubah keadaan. Semuanya sama seperti semula tidak ada perubahan.

Dan karena jam telah menunjukkan pukul 13:42 WIB saya kasihan dengan Andra. Rumahnya sangat jauh ( Di Cilendek ) sering terjebak macet, maka saya putuskan saja agar dia mengirim filenya via facebook dan saya akan mengeceknya. Jika boleh menebak, pasti hatinya sakit ya karena saya telah memberikan harapan kosong dan mungkin merasa rugi begitu seringnya menelfon saya waktu itu. Hehehehe

Finally, saya berjalan ke halte PMI untuk naik angkot 05. Guys, kalian harus tau sebuah fakta mini. Angkot 05 jarang yang kosong, ya jarang pake banget. Tidak heran, saya menunggu lagi menunggu angkot 05 yang lewat. Sekitar sejam saya duduk di halte dengan muka madesu banget (Bisa dibayangkan) dan ada merokok lagi. Wah, sejujurnya asap rokoknya lah yang buat saya tidak betah. Saya tidak suka, saya tidak mau menjadi perokok pasif. Ya namanya juga anak PMR sedikit taulah tentang begituan. Mana yang merokok itu serusia saya lagi. Ckckckck bagaimana kondisi paru-parunya nanti ya ketika sudah besar? Apa mereka tidak berpikir sejauh itu atau setidaknya tau efeknya bagi kesehatan. Kan sering ditayangin tuh iklannya di TV. Apa tidak pernah nonton TV? hehehe

Pas saya duduk di angkot ( Sudah menemukan, sesuatu banget :') ) saya baru menyadari di samping saya ini ibu dari teman TK saya dulu, dicky namanya. Kami berdua serasa sibuk sendiri di angkot ngobrol ini ngobrol itu tidak berhentinya. Salah satu topik paling menarik, beliau bercerita tentang anaknya yang robek kulitnya karena ikut tauran. Dan kalian tau alasan dia ikut tauran? DIBILANG BENCONG SAMA TEMENNYA. Sekarang gini deh, bukan berarti kamu bencong kalo kamu tidak ikut tauran justru itu yang namanya lelaki sejati bisa mengendalikan dirinya ke hal yang positif, tidak mudah terpengaruh oleh hal yang negatif. So, masa muda loh ini meeeeen. Masa sih masa mudanya dihabiskan dengan tauranlah, merokoklah, atau hal negatif lainnya. Ingat kitalah yang menentukan mau bagaimana masa depan kita nanti. Tugas kita adalah belajar demi masa depan yang cemerlang. Intinya orang tua akan bangga jika anaknya berhasil, ,mau dong orang tuanya menangis di hadapan kita tapi menangis bahagia bukan sebaliknya menangisi kelakuan kita yang tidak baik. Hem, mulai sekarang ayo kita rajin belajar. Buktikan bahwa kita bisa!

Ya, jadi meskipun saya mengalami banyak cobaan hari ini ternyata dibalik cobaan yang diberi terdapat pula hikmah yang Allah kasih. Saya jadi bisa belajar bagaimana belajar bertanggung jawab, bagaimana menghargai orang di sekitar dan menjadi pelajar yang baik.

Jika kamu berjalan di sebuah jalan gelap tanpa lampunya, tidak selamanya kamu ada disana. Mungkin di belokan depan ada belokan yang terang karena ada lampunya dan akhirnya kamu menemukan apa yang akan kamu tuju. - Ali Yakhya

0 comments:

Post a Comment