Aku kasihan melihatmu tuan muda. Aku tetap akan memanggilmu tuan muda. Sejak rambutku tak hitam lagi. Aku ragu. Aku ragu akan kejelasan hidupmu tuan muda. Aku memang bukan tuhan. Tapi tanpaku, kau siapa. Bukankah kau hanya seorang duda yang butuh perawat. Maaf aku salah. Maksudku bukankah aku ini penawar. Penawar rasa tawar harimu yang setiap detik kau lewatkan dengan burung itu.
(Sayangnya burung itu telah pergi meninggalkannya karena ia percaya dia akan tetap menjadi tuan muda bersamaku).
Mau apa kau tuan muda? bukankah kau sakit. Tapi maaf bukankah kau tiap hari disakiti. Tak perlu congkak, aku sudah tau siapa yang menyakitimu. Buntalan rasa salahmu. Buliran rasa sesalmu. Maaf aku tak perlu berbicara masa mudamu. Cukup. Biarkan aku dan kenanganmu yang tahu semua itu.
Jika aku ini orang jahat, aku akan jahat. Tak jahat sepertimu. Iya masa mudamu. Maaf lupa mengalahkan segalanya. Tuan muda adalah seorang pecandu. Pecandu harta, tahta dan wanita. Tak ada yang dapat menghentikannya. Tak ada yang dapat membujuknya untuk kembali ke utara. Iya, dia masih ada di selatan jika dia masih mengisap benda BERACUN itu dan mengepulkan asapnya yang mengikat leherku.
Tuan muda menjerit. Ada apa tuan muda? apa kau kehabisan lagi? bukankah sebentar lagi kau memang akan habis. Bukan habis digerus waktu tapi habis dikroyoknya. Manfaatkan waktumu tuan muda. Muda tak selamanya. Muda tak abadi. Apa harus aku kukuhkan tekadmu untuk merubah itu. Kurasa malaikat lebih tau untuk itu.
Dengan hormat tuan muda. Aku akan memberikan salam pada anak-anak kayu tak berdosa itu. Aku pun akan memberikan salam pada seekor macan jantan yang sedang menunggu makanan dari sang betina yang berusaha gigih dicarinya, hanya untuk kakanda. Suaminya tercinta. Hei macan, di luar hutan ini ada seorang saudaramu. Kau tak menolongnya? bukankah harusnya kita saling membantu? | Maafkan aku pak tua, aku tak punya saudara. Aku ditinggalkan semua saudaraku karena kelakuanku. Untung istriku masih setia bersamaku. | Haha. Kau pantas bersaudara. Kau sama. Sama-sama tak berdaya.
Pulang menuju rumah bala itu semakin jauh. Macan itu mengajakku berkeliling memori kelamnya. Aku bosan karena itu sama saja seperti aku mengulang cerita Tuan Muda. Oh maaf aku mengatakannya dan maaf sekali lagi lupa menguasai hatiku.
Awan beriak mengikutiku semenjak tadi. Aku curiga dengannya. Aku bukan takut diperhatikan. Aku hanya tak mau dia melihat seseorang yang setia dengan musuhnya. Pasa (terbalik). Sesekali bercerita tak ada salahnya. Lagipula aku kesepian. Setiap waktu direnggut. Hanya satu yang tak dia renggut. Ya, kesetianku pada sebuah pengabdian yang diambang perasaan bukan ambang batas. Maaf aku bukan pengecut yang memecut perasaan yang memciut terombak dan tersindir pada irian manusia-manusia itu. Iya mereka manusia-manusia yang bukan manusia-manusia sebenarnya.
Aku tanya? untuk apakah manusia-manusia diciptakan di dunia ini? Beribadah pada-Nya dan mereka bukan beribadah mereka berhibah. Aku tak bermaksud mereka memasukkan dalam drama hidupku. Aku tak ingin hanya karena emosi meluap, semua hal yang seharusnya tak tertumpahkan menjadi mubazir jatuh ke bawah dan menetes bak air mengalir....... mengalir hingga ujung dunia jika dunia berujung.
Tak ada yang menarik obrolan ini. Kurang seru. Bisakah kau campurkan sedikit saja bahkan setetes saja merica? Iya irisan paprika juga boleh sekedar penambah rasa dalam obrolan kita. Kau memang awan yang memang tak pantas menjadi dalang. Sebab dalang tak ada yang jelek darimu. Kamu kotor karena ulah tuan muda. Jadi tuan muda lah yang tak pantas menjadi dalang. Maafkan aku awan. Tapi tolong jangan menuduhku.
Aku begini karena ini bukan pekerjaanku. Aku bukan pengemis karena aku adalah manusia yang tak pernah mau mengemis. Apalagi mengemis untuk dimintai kebahagiaan. Maaf. Aku bahagia ini jalanku. Ini jalanku, Awan. Sekali lagi. Kau hanyalah sebuah awan. Hanya sebuah rangkaian huruf kurang dari sama dengan 4. Jangan sombong! Kau bukan dalang apalagi hakim.
Kau kotor. Aku akan bersihkan kotoran mu setelah aku sampai menyampaikan pesan anak-anak itu. Masih aku rahasiakan. Tapi tak salah berbagi. Mendapatkan pahala kan? Yasudah aku mau berbagi sedikit. Iya sedikit. Perhatikan ini.
Disaat macan sedang tertidur pulas, anak-anak kayu itu semua meringik menangis. Ia tak lagi mendapatkan kasih sayang. Mereka hanya butuh kasih sayang.
Kau tau itu cinta? | Ya, aku tau. Lalu kenapa dengan cinta? | Cinta itu rumit. Lebih rumit dari transkripsi DNA. | Jadi kau butuh kasih sayang tapi kau anggap cinta itu rumit? | Iya, oleh karena itu kami tak butuh cinta. Kami hanya butuh kasih sayang. | Adakah bedanya? aku tak menemukan beda dan rasio diantara keduanya. | Kasih sayang bertindak saling mengkasihi dan menyayangi. Cinta bertindak saling mencintai. Jika kami boleh tanya lagi. Apa tujuan kau saling mengkasihi dan menyayangi? | Aku tak tau. | Kau abstrak. Kasih dan sayang merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Sedangkan cinta hanya sendiri. Ia tak dapat berikatan dengan yang lain. Sesuatu akan lebih kuat jika berikatan satu sama lain. | Tapi. Cinta juga berikatan dengan yang lain. Apa kalian tak pernah dengar kesetiaan? Memang namanya bukan cinta kesetiaan tapi apakah semua hal yang kuat terbatas oleh kata? Kami rasa tidak. | Kau memang benar. Sangat benar. Tapi tak semua cinta berikatan dengan kesetiaan. Cinta juga berikatan dengan kebohongan. Seharusnya contoh kasih dan sayang. Mereka berdua akan tetap saling berikatan jika tuhan masih menghendaki. | Aku tau. cinta membuat mu rumit tapi bayangkan, apakah kau selalu mengucapkan AKU KASIH DAN SAYANG KAMU dibanding AKU CINTA KAMU. | Cukup. Kami tau siapa yang benar. Tuhan karena mereka yang menciptakan kasih dan sayang sehingga timbul rasa cinta. Sudahi permainan kata ini, kami muak. Bahkan kami lupa harus mengatakan apa pada ayah. Kau boleh pulang. | Aku tetap pilih cinta. Maaf, aku harus segera pergi. Ada awan yang memanggilku.
Hanya berselang kurang dari 1 detik, tuan muda memanggilku. APA DIA SEDANG BERSAMA MALAIKAT?????????????????????????????????!
To be continued.
0 comments:
Post a Comment