Layaknya
music yang berirama. Aku berada di kerumunan orang-orang yang meminta angin
mengembalikan segalanya. Segala yang ia punya. Tak jelas adanya. Wujudnya.
Tampaknya hanya aku yang tak mengerti semua permasalahan ini. Aku tak tahu apa
yang terjadi. Siapakah kerumunan orang-orang itu?
Kata-kata
yang sempat aku ucapkan pada gedung tua putih di ujung jalan. Maafkan saya
tuan, jika anda berkenan dan tahu jawaban pertanyaan saya tolong jawab tanpa
ada ragu dan kebohongan. Ku lihat matanya berbinar. Ada apa gerangan?
“Aku sudah
menjadi saksi bisu yang terjadi di sekitar sini. Ada satu hal yang harus saya
bicarakan padamu. Satu hal yang tak pernah kau duga sebelumnya.” Kata gedung
tua putih itu.
“Lalu apa
yang terjadi? Tolong katakan padaku!” Seruku.
“Orang-orang
itu meminta angin untuk mengembalikan dayanya. Daya yang telah membuat
orang-orang kehilangan semangat untuk berjalan. Untuk berpergian. Untuk
berlari. Karena apa? Karena angin membuat udara dingin. Udara yang tak cocok
bagi orang-orang itu yang sedang giat menggerakkan seluruh badannya. Angin
datang tanpa salam. Angin datang bergerombolan. Itulah yang terjadi anak muda!”
Ucap gedung tua putih itu sekali lagi.
“Kasihan.
Bukankah itu memang tugasnya untuk berpergian dari negeri yang satu ke negeri
yang lain untuk menyebarkan kesejukan bagi orang-orang. Ia tak berhak diadili.
Ia hanya salah strategi. Lihat, banyak orang diadili tanpa ada niat sebelumnya.
Semua terjadi begitu saja. Dan itu sama sekali bukan kehendaknya namun kehendakNya.
Seegois itukah orang-orang? Jelas saja, dengan begitu berarti dia melawan jalan
yang telah diberikan Tuhan. Sekarang angin sedang sedih. Bagaimana caraku
menghiburnya?” Tanyaku penasaran.
“Kau cukup
menanam bibit untuk tempatnya bersinggah sebentar di masa yang akan datang
sebab bibit itu akan tumbuh menjadi suatu harapan baru untuknya, tempat tinggal
sementara ketika dia letih, ketika dia bersedih dan ketika dia bebas untuk
bertugas.” Jawab gedung tua putih.
Aku
berpikir cukup lama mencerna jawaban gedung tua putih itu. Namun pada akhirnya
aku tahu apa yang sebenarnya telah terjadi disini. Gedung tua putih itu
sebenarnya hadir setelah banyak bibit yang merupakan harapan baru untuk angin
berpaling. Mati. Semua gundul. Tak ada lagi kesan hijau. Tak ada. Semua habis
didirikan bangunan megah menjulang untuk orang-orang yang mengadili angin itu.
Aku mengerti sekarang. Pantas saja gedung putih terlihat murung setiap saat
karena keberadaannya membuat angin dan harapannya tak bersinergi lagi sehingga
angin tak terkontrol lagi gerakannya, ia melaju kesana kemari tak ada tempat
singgah dan disaat seperti itu orang-orang datang dan mengadili angin yang
jelas-jelas kesalahannya adalah kesalahannya mereka juga. Orang-orang tak
pernah berpikir bagaimana itu bisa terjadi namun lebih kepada siapa yang
membuat semua ini terjadis. Seegois itukah kita?
0 comments:
Post a Comment