Wednesday, August 13, 2014

“Seegois itukah kita?”


Layaknya music yang berirama. Aku berada di kerumunan orang-orang yang meminta angin mengembalikan segalanya. Segala yang ia punya. Tak jelas adanya. Wujudnya. Tampaknya hanya aku yang tak mengerti semua permasalahan ini. Aku tak tahu apa yang terjadi. Siapakah kerumunan orang-orang itu?
Kata-kata yang sempat aku ucapkan pada gedung tua putih di ujung jalan. Maafkan saya tuan, jika anda berkenan dan tahu jawaban pertanyaan saya tolong jawab tanpa ada ragu dan kebohongan. Ku lihat matanya berbinar. Ada apa gerangan?
“Aku sudah menjadi saksi bisu yang terjadi di sekitar sini. Ada satu hal yang harus saya bicarakan padamu. Satu hal yang tak pernah kau duga sebelumnya.” Kata gedung tua putih itu.
“Lalu apa yang terjadi? Tolong katakan padaku!” Seruku.
“Orang-orang itu meminta angin untuk mengembalikan dayanya. Daya yang telah membuat orang-orang kehilangan semangat untuk berjalan. Untuk berpergian. Untuk berlari. Karena apa? Karena angin membuat udara dingin. Udara yang tak cocok bagi orang-orang itu yang sedang giat menggerakkan seluruh badannya. Angin datang tanpa salam. Angin datang bergerombolan. Itulah yang terjadi anak muda!” Ucap gedung tua putih itu sekali lagi.
“Kasihan. Bukankah itu memang tugasnya untuk berpergian dari negeri yang satu ke negeri yang lain untuk menyebarkan kesejukan bagi orang-orang. Ia tak berhak diadili. Ia hanya salah strategi. Lihat, banyak orang diadili tanpa ada niat sebelumnya. Semua terjadi begitu saja. Dan itu sama sekali bukan kehendaknya namun kehendakNya. Seegois itukah orang-orang? Jelas saja, dengan begitu berarti dia melawan jalan yang telah diberikan Tuhan. Sekarang angin sedang sedih. Bagaimana caraku menghiburnya?” Tanyaku penasaran.
“Kau cukup menanam bibit untuk tempatnya bersinggah sebentar di masa yang akan datang sebab bibit itu akan tumbuh menjadi suatu harapan baru untuknya, tempat tinggal sementara ketika dia letih, ketika dia bersedih dan ketika dia bebas untuk bertugas.” Jawab gedung tua putih.
Aku berpikir cukup lama mencerna jawaban gedung tua putih itu. Namun pada akhirnya aku tahu apa yang sebenarnya telah terjadi disini. Gedung tua putih itu sebenarnya hadir setelah banyak bibit yang merupakan harapan baru untuk angin berpaling. Mati. Semua gundul. Tak ada lagi kesan hijau. Tak ada. Semua habis didirikan bangunan megah menjulang untuk orang-orang yang mengadili angin itu. Aku mengerti sekarang. Pantas saja gedung putih terlihat murung setiap saat karena keberadaannya membuat angin dan harapannya tak bersinergi lagi sehingga angin tak terkontrol lagi gerakannya, ia melaju kesana kemari tak ada tempat singgah dan disaat seperti itu orang-orang datang dan mengadili angin yang jelas-jelas kesalahannya adalah kesalahannya mereka juga. Orang-orang tak pernah berpikir bagaimana itu bisa terjadi namun lebih kepada siapa yang membuat semua ini terjadis. Seegois itukah kita?

0 comments:

Post a Comment