“PUISI UNTUK KENANGAN”
Di saat hati ini gundah di heningnya malam
Aku berdendang ikuti irama
Irama hidupku yang membawaku pergi
Dari angan tanpamu, meskipun itu tabu bagiku
Aku perlahan mencoba bangkit dari keadaan
Memaksaku tertatih melewati jalan kegusaran
Tak ada yang meminta, itu semua mau Tuhanku
Mengapa begini? Tanya saja pada Tuhanku
Tuhanku esa, Sang pencipta cinta diantara kita
Memang tak akan lama cinta itu bersemi
Karena tak ada lagi cinta yang nyata untuk kita
Selamat tinggal kenangan
Kan aku kubur engkau bersama semua rindu
Tanpanya aku pasrah menantimu
Di ujung jalan harapan yang tak pernah usai
“Rindu Abadi”
Mudah saja aku menangis
Mudah saja aku tertawa
Mudah saja aku tersenyum
Mudah saja aku terlena
Semua angan tentangmu
Membuatku mengerti
Bahwa ada rindu yang abadi
“Hadapi Masalah dengan Senyuman”
Hiruk pikuk hatiku
Masalah banyak berlabuh
Menunggu kepastian dari sang nahkoda
Kapan kau akan meninggalkan keputusasaan dan
menuju kegembiraan
Sulit katanya
Meski seribu jangkar diturunkan
Masalah terus berdatangan
Meminta tuk diadili, meski sering di caci
Tunggu sekejap saja hingga nahkoda datang membawa
senyuman
“Berubah tak Berulah”
Rasa heran menaungi pikiranku
Silih berganti, silih kembali
Ada yang berubah sejak aku mengenalimu
Dulu, di saat kau tak begini
Mengapa engkau tak adil bagiku?
Berbeda dari yang biasanya
Tak menyapaku
Tak ramah padaku
Tak semangat menemuiku
Tak pernah usai tuk campakkanku
Kau… jahat
“Cinta Tak Harus Memilikimu”
Aku adalah sekumpulan titik yang dirangkai
menjadi bentuk cinta yang indah
Tersemat melekat di bagianmu, tak ingin pupus
tergerus rasa yang baru untuknya
Cara mencintaimu memang salah, seharusnya aku tak
pernah berpikir kita akan satu
Karena bagiku memang benar bahwa cinta tak harus
memilikimu
“INDAH”
Bulan itu indah
Bintang lebih indah
Langit memang menampung keindahan
Tapi apakah kamu tahu? Bahwa bumi lebih beruntung
Menampungmu yang lebih dari kata indah….
“Sang Mantan Terindah”
Ijinkan aku bersua denganmu untuk sekali saja
setelah kita terlepas dari kenangan manis dulu
Aku tak tahu mengapa hati ini terus risau dan
gundah jika tak berada di dekatmu atau sekedar tak menyebut namamu dalam
mimpiku
Mungkinkah ini adalah sebuah cobaan yang berat
bagiku dari sang pencipta kita dan cinta untuk hidup tanpamu, tanpa bidadari
dunia sekaligus bidadari surgaku
“Seorang yang dewasa”
Seorang yang dewasa.. Tak berputus asa atas
segala asa yang tersisa
Seorang yang dewasa.. Tak berkeluh kesah atas
segala problema yang ada
Seorang yang dewasa.. Tak gentar hadapi seribu
tantangan di depan mata
Seorang yang dewasa.. Tak lupa bersyukur atas
segala suka dan duka
Aku memang belum menjadi seorang yang dewasa
seperti mereka
Aku ingin menjadi seorang yang dewasa lewat suatu
proses yang dinamakan cinta
0 comments:
Post a Comment