Wednesday, February 4, 2015

Remaja Anti HIV dan AIDS

Oke... ini adalah postingan tentang artikel HIV yang gua kirim buat lomba nulis artikel tapi keberuntungan tampaknya sedang melayang pergi menembus cakrawala... ia tidak bersamaku waktu itu... yasudahlahyaa...


HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) telah menjadi isu global yang ramai diperbincangkan. Isu ini telah mencapai puncaknya akibat penularannya yang sangat cepat, gejala awal yang tidak dapat diduga, dan pergaulan bebas. Ketiga faktor tersebut menyebabkan banyaknya nyawa yang telah terenggut terutama anak-anak dan wanita. Mereka merupakan korban dari seorang pria yang terinfeksi HIV dan AIDS. Betapa malangnya nasib anak-anak dan wanita yang tidak bersalah namun harus merasakan apa yang pria nakal rasakan. Pria ini telah lalai menjaga dirinya sendiri. Setiap hari berkawan dengan perilaku buruk yang menyimpang yaitu pergaulan bebas. Kesana kemari mempermainkan wanita dengan mudahnya atau mengkonsumsi narkotika dengan suntik yang tidak steril dan bukan sekali pakai. Perlu diketahui bahwa HIV dan AIDS merupakan kasus yang sudah cukup eksis merajai media massa. Setiap harinya korban berjatuhan. Setiap harinya ada saja yang terinfeksi. Lalu pertanyaannya adalah siapa yang bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi? Jika kita egois, kita bisa saja menyalahkan mereka yang terinfeksi sebab itu adalah buah yang dipetik dari perbuatan menyimpang yang sudah mereka tanam di masa lalu.Itu sebuah pernyataan salah. Mengapa saya mengatakan itu salah? sebab tidak ada satupun yang mau untuk terjangkit HIV dan AIDS. Tidak satupun yang mau untuk melakukan perbuatan menyimpang. Semua terjadi begitu saja dalam suatu lingkungan atau komunitas. Para penderita HIV dan AIDS salah mendefinisikan adaptasi. Adaptasi merupakan penyesuaian dirinya, akhirnya mereka berpikir bahwa penyesuaian diri adalah dengan mengikuti segala yang dilakukan di suatu lingkungan agar menjadi sama dengan anggota yang lain. Padahal dalam arti yang lebih bijak, adaptasi adalah penyesuaian diri dengan cara menempatkan diri kita pada posisi yang benar artinya jika lingkungan itu baik, kita harus ikuti namun kebalikannya jika lingkungan itu tidak baik, kita tidak boleh mengikutinya tetapi justru membimbing anggota lain untuk melakukan hal yang lebih baik. Tentunya dengan cara yang baik pula agar tidak ada rasa kebencian yang timbul nantinya. Sudah jelas disini bahwa kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Sungguh ironis melihat kenyataan yang ada. Terlebih jika diperhatikan dengan seksama, para penderita HIV dan AIDS tergolong generasi muda, generasi pembangun bangsa di kemudian hari. Jika kita berburuk sangka, apa jadinya bangsa ini nanti ke depan dengan generasi muda yang tidak tahu arah kemana akan melangkah. Namun Tuhan lewat firmannya mengingatkan untuk selalu menjadi manusia yang selalu berbaik sangka. Para penderita HIV dan AIDS tidak akan pernah kehilangan harapan untuk hidup lebih baik. Mereka bukanlah suatu subjek yang harus dicela. Mereka juga bukanlah sebuah subjek yang harus dimusuhi. Titik terangnya adalah kita sama-sama manusia yang pernah berbuat salah. Tugas kita adalah untuk membimbing mereka untuk melangkah ke arah yang benar sehingga mereka bisa menjadi generasi muda harapan bangsa. Semua terjadi karena adanya niat dan kemauan.Perlu diketahui bahwa remaja merupakan bagian dari generasi muda. Menurut saya remaja tidak boleh apatis terhadap isu ini melainkan harus berperan aktif. Remaja memiliki semangat yang masih membara layaknya matahari. Ibarat ini mengartikan bahwa remaja memiliki energi yang maksimal untuk bisa menjadi penerang bagi temannya yang mungkin kurang beruntung terjangkit HIV dan AIDS. Menerangi dalam arti memberikan suatu pencerahan berupa semangat dan doa. Kedua hal tersebut penting bagi remaja yang terinfeksi HIV dan AIDS selain dukungan moril dari keluarga tentunya. Remaja harus bisa menjadi kawan yang baik dengan menjadi teladan di lingkungannya sebab remaja merupakan subjek yang mudah sekali terpengaruh. Remaja juga dapat mengikuti segala kegiatan positif baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat tempat tinggalnya sebagai tindakan preventif atau pencegahan remaja terinfeksi HIV dan AIDS. Kegiatan positif di sekolah dapat berupa kegiatan ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja atau Peer Councilor yang memberikan materi mengenai Pendidikan Remaja Sebaya (PRS). Selain lewat kegiatan ekstrakurikuler, pihak bimbingan konseling di sekolah juga harus aktif untuk mengkontrol setiap siswanya dan menyediakan ruang konsultasi mengenai masalah-masalah yang timbul dalam setiap diri seorang remaja karena bagaimanapun remaja masih labil dalam mengambil keputusan. Bisa saja untuk mengakhiri segala permasalahan yang ada, remaja mengambil jalan pintas melalui kegiatan-kegiatan negatif yang dapat menyebabkan remaja terinfeksi HIV dan AIDS. Sedangkan kegiatan positif di lingkungan tempat tinggal dapat berupa karang taruna yang semakin tergerus oleh zaman keberadaannya. Orang tua di rumah selalu menjadi supervisor bagi anaknya dan selalu memberikan perhatian serta zona nyaman. Itu semua sangat penting bagi psikologis remaja sendiri. Dengan mengikuti segala kegiatan positif baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal, remaja tidak memiliki kesempatan untuk terjerumus ke dalam perilaku menyimpang akibat energi positif akan terus mengelilinginya. Untuk mempertahankan energi positif terus mengelilingi remaja maka hatinya harus selalu dalam keadaan yang positif pula dengan cara menjalankan segala kewajiban sesuai keyakinannya. Dengan begitu remaja dapat memiliki jasmani dan rohani yang saling bersinergi. Selain mencegahnya, kita harus yakin dengan kekuatan remaja yang dapat membawa perubahan untuk menanggulangi HIV dan AIDS. Di zaman yang serba canggih ini tentunya semangat remaja untuk membawa perubahan harus diselaraskan dengan penguasaan teknologi. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, remaja dapat menjadi agen aspirasi remaja seusianya serta mengkampanyekan bahwa remaja Indonesia anti HIV dan AIDS lewat media sosial seperti facebook, twitter, atau bahkan youtube. Remaja harus saling mengingatkan satu sama lain bahwa betapa pentingnya menjaga diri sendiri agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas sehingga tidak akan terjangkit HIV dan AIDS. Peran remaja seperti ini harus sepenuhnya didukung oleh pihak manapun termasuk pemerintah yang juga memiliki kewajiban memperhatikan para penderita HIV dan AIDS dengan cara memberikan sebuah solusi cerdas agar para penderita HIV dan AIDS tidak malu untuk show up di lingkungan masyarakat dan tetap tidak putus asa terhadap kondisinya seperti membangun atau menyediakan sebuah lembaga yang khusus menangani kasus ini di Indonesia. Selain itu juga di setiap pusat kesehatan harus terdapat ruang khusus konsultasi penderita HIV dan AIDS sebab sekali lagi bahwa dukungan moril sangat dibutuhkan. Jika kita terus membiarkannya, budaya lama untuk mencela, mencemooh, atau bahkan menghardik para penderita HIV dan AIDS ini akan terus berlangsung. Kerja sama antara remaja dan pemerintah dapat menjadi bumerang untuk memerangi HIV dan AIDS yang terjadi di Indonesia. Semoga kerja sama ini dapat terealisasikan secepat mungkin agar HIV dan AIDS tidak terus menelan korban. Saya pikir 1 Desember bukanlah sebuah perayaan bagi penderita HIV dan AIDS karena tidak ada yang ingin merayakan sebuah ketidakberuntungan melainkan sebuah momentum yang tepat untuk lebih bersikap peduli dan tidak terus mengindentikkan mereka dengan hal-hal yang kurang baik. Jalan hidup setiap orang berbeda. Setiap orang berhak memilih jalannya masing-masing. Ada yang berjalan ke arah yang salah namun juga ada yang berjalan ke arah yang benar. Namun perlu diingat setiap jalan baik yang benar maupun salah tidak akan pernah lurus, pasti ada saja belokan yang membuat keraguan kemana akan meneruskan langkahnya hingga kemudian muncul sang penerang untuk membimbing kemana orang akan meneruskan langkahnya. Bukankah dunia akan lebih terang jika kita terus menjadi sang penerang?

0 comments:

Post a Comment