Oke... ini adalah postingan tentang artikel HIV yang gua kirim buat lomba nulis artikel tapi keberuntungan tampaknya sedang melayang pergi menembus cakrawala... ia tidak bersamaku waktu itu... yasudahlahyaa...
HIV
(Human Immunodeficiency Virus) dan
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)
telah menjadi isu global yang ramai diperbincangkan. Isu ini telah mencapai
puncaknya akibat penularannya yang sangat cepat, gejala awal yang tidak dapat
diduga, dan pergaulan bebas. Ketiga faktor tersebut menyebabkan banyaknya nyawa
yang telah terenggut terutama anak-anak dan wanita. Mereka merupakan korban
dari seorang pria yang terinfeksi HIV dan AIDS. Betapa malangnya nasib
anak-anak dan wanita yang tidak bersalah namun harus merasakan apa yang pria nakal rasakan. Pria ini telah lalai
menjaga dirinya sendiri. Setiap hari berkawan dengan perilaku buruk yang
menyimpang yaitu pergaulan bebas. Kesana kemari mempermainkan wanita dengan mudahnya atau mengkonsumsi narkotika
dengan suntik yang tidak steril dan bukan sekali pakai. Perlu diketahui bahwa
HIV dan AIDS merupakan kasus yang sudah cukup eksis merajai media massa. Setiap harinya korban berjatuhan. Setiap
harinya ada saja yang terinfeksi. Lalu pertanyaannya adalah siapa yang
bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi? Jika kita egois, kita bisa
saja menyalahkan mereka yang terinfeksi sebab itu adalah buah yang dipetik dari
perbuatan menyimpang yang sudah mereka tanam di masa lalu.Itu sebuah pernyataan
salah. Mengapa saya mengatakan itu salah? sebab tidak ada satupun yang mau untuk
terjangkit HIV dan AIDS. Tidak satupun yang mau untuk melakukan perbuatan menyimpang.
Semua terjadi begitu saja dalam suatu lingkungan atau komunitas. Para penderita
HIV dan AIDS salah mendefinisikan adaptasi. Adaptasi merupakan penyesuaian
dirinya, akhirnya mereka berpikir bahwa penyesuaian diri adalah dengan
mengikuti segala yang dilakukan di suatu lingkungan agar menjadi sama dengan
anggota yang lain. Padahal dalam arti yang lebih bijak, adaptasi adalah
penyesuaian diri dengan cara menempatkan diri kita pada posisi yang benar
artinya jika lingkungan itu baik, kita harus ikuti namun kebalikannya jika
lingkungan itu tidak baik, kita tidak boleh mengikutinya tetapi justru
membimbing anggota lain untuk melakukan hal yang lebih baik. Tentunya dengan
cara yang baik pula agar tidak ada rasa kebencian yang timbul nantinya. Sudah
jelas disini bahwa kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Sungguh ironis
melihat kenyataan yang ada. Terlebih jika diperhatikan dengan seksama, para
penderita HIV dan AIDS tergolong generasi muda, generasi pembangun bangsa di
kemudian hari. Jika kita berburuk sangka, apa jadinya bangsa ini nanti ke depan
dengan generasi muda yang tidak tahu arah kemana akan melangkah. Namun Tuhan
lewat firmannya mengingatkan untuk selalu menjadi manusia yang selalu berbaik
sangka. Para penderita HIV dan AIDS tidak akan pernah kehilangan harapan untuk
hidup lebih baik. Mereka bukanlah suatu subjek yang harus dicela. Mereka juga
bukanlah sebuah subjek yang harus dimusuhi. Titik terangnya adalah kita
sama-sama manusia yang pernah berbuat salah. Tugas kita adalah untuk membimbing
mereka untuk melangkah ke arah yang benar sehingga mereka bisa menjadi generasi
muda harapan bangsa. Semua terjadi karena adanya niat dan kemauan.Perlu
diketahui bahwa remaja merupakan bagian dari generasi muda. Menurut saya remaja
tidak boleh apatis terhadap isu ini melainkan harus berperan aktif. Remaja
memiliki semangat yang masih membara layaknya matahari. Ibarat ini mengartikan
bahwa remaja memiliki energi yang maksimal untuk bisa menjadi penerang bagi
temannya yang mungkin kurang beruntung terjangkit HIV dan AIDS. Menerangi dalam
arti memberikan suatu pencerahan berupa semangat dan doa. Kedua hal tersebut
penting bagi remaja yang terinfeksi HIV dan AIDS selain dukungan moril dari
keluarga tentunya. Remaja harus bisa menjadi kawan yang baik dengan menjadi
teladan di lingkungannya sebab remaja merupakan subjek yang mudah sekali
terpengaruh. Remaja juga dapat mengikuti segala kegiatan positif baik di
lingkungan sekolah maupun masyarakat tempat tinggalnya sebagai tindakan
preventif atau pencegahan remaja terinfeksi HIV dan AIDS. Kegiatan positif di
sekolah dapat berupa kegiatan ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja atau Peer Councilor yang memberikan materi
mengenai Pendidikan Remaja Sebaya (PRS). Selain lewat kegiatan ekstrakurikuler,
pihak bimbingan konseling di sekolah juga harus aktif untuk mengkontrol setiap
siswanya dan menyediakan ruang konsultasi mengenai masalah-masalah yang timbul
dalam setiap diri seorang remaja karena bagaimanapun remaja masih labil dalam
mengambil keputusan. Bisa saja untuk mengakhiri segala permasalahan yang ada,
remaja mengambil jalan pintas melalui kegiatan-kegiatan negatif yang dapat
menyebabkan remaja terinfeksi HIV dan AIDS. Sedangkan kegiatan positif di
lingkungan tempat tinggal dapat berupa karang taruna yang semakin tergerus oleh
zaman keberadaannya. Orang tua di rumah selalu menjadi supervisor bagi anaknya dan selalu memberikan perhatian serta zona
nyaman. Itu semua sangat penting bagi psikologis remaja sendiri. Dengan
mengikuti segala kegiatan positif baik di sekolah maupun di lingkungan tempat
tinggal, remaja tidak memiliki kesempatan untuk terjerumus ke dalam perilaku
menyimpang akibat energi positif akan terus mengelilinginya. Untuk
mempertahankan energi positif terus mengelilingi remaja maka hatinya harus
selalu dalam keadaan yang positif pula dengan cara menjalankan segala kewajiban
sesuai keyakinannya. Dengan begitu remaja dapat memiliki jasmani dan rohani
yang saling bersinergi. Selain mencegahnya, kita harus yakin dengan kekuatan
remaja yang dapat membawa perubahan untuk menanggulangi HIV dan AIDS. Di zaman
yang serba canggih ini tentunya semangat remaja untuk membawa perubahan harus
diselaraskan dengan penguasaan teknologi. Dengan memanfaatkan kemajuan
teknologi, remaja dapat menjadi agen aspirasi remaja seusianya serta mengkampanyekan
bahwa remaja Indonesia anti HIV dan AIDS lewat media sosial seperti facebook, twitter, atau bahkan youtube.
Remaja harus saling mengingatkan satu sama lain bahwa betapa pentingnya menjaga
diri sendiri agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas sehingga tidak akan
terjangkit HIV dan AIDS. Peran remaja seperti ini harus sepenuhnya didukung
oleh pihak manapun termasuk pemerintah yang juga memiliki kewajiban
memperhatikan para penderita HIV dan AIDS dengan cara memberikan sebuah solusi
cerdas agar para penderita HIV dan AIDS tidak malu untuk show up di lingkungan masyarakat dan tetap tidak putus asa terhadap
kondisinya seperti membangun atau menyediakan sebuah lembaga yang khusus
menangani kasus ini di Indonesia. Selain itu juga di setiap pusat kesehatan
harus terdapat ruang khusus konsultasi penderita HIV dan AIDS sebab sekali lagi
bahwa dukungan moril sangat dibutuhkan. Jika kita terus membiarkannya, budaya
lama untuk mencela, mencemooh, atau bahkan menghardik para penderita HIV dan
AIDS ini akan terus berlangsung. Kerja sama antara remaja dan pemerintah dapat
menjadi bumerang untuk memerangi HIV dan AIDS yang terjadi di Indonesia. Semoga
kerja sama ini dapat terealisasikan secepat mungkin agar HIV dan AIDS tidak
terus menelan korban. Saya pikir 1 Desember bukanlah sebuah perayaan bagi
penderita HIV dan AIDS karena tidak ada yang ingin merayakan sebuah
ketidakberuntungan melainkan sebuah momentum yang tepat untuk lebih bersikap
peduli dan tidak terus mengindentikkan mereka dengan hal-hal yang kurang baik. Jalan
hidup setiap orang berbeda. Setiap orang berhak memilih jalannya masing-masing.
Ada yang berjalan ke arah yang salah namun juga ada yang berjalan ke arah yang
benar. Namun perlu diingat setiap jalan baik yang benar maupun salah tidak akan
pernah lurus, pasti ada saja belokan yang membuat keraguan kemana akan
meneruskan langkahnya hingga kemudian muncul sang penerang untuk membimbing
kemana orang akan meneruskan langkahnya. Bukankah dunia akan lebih terang jika
kita terus menjadi sang penerang?
0 comments:
Post a Comment