.
.
.
Kebenaran akan keputusannya.
Kebenaran akan pilihannya.
Kebenaran akan jalan pikirnya.
Lalu kemanakah kita seharusnya mengadu? Apa cukup berkeluh kesah dengan sesama manusia yang notabenenya juga memiliki banyak kebingungan dalam hidupnya. Bukan berarti salah untuk berkeluh kesah sesama manusia karena sudah seharusnyalah sesama manusia saling mengerti satu sama lain. Manusia adalah mahluk sosial yang memang harus saling berbagi. Berbagi masalah? Re-telling problem. Karena pada dasarnya memang tidak ada yang ingin menerima masalah.
Dengan re-telling problem, beban yang awalnya sebesar gunung perlahan-lahan mengecil menjadi bukit lalu rata dengan tanah jika beban sudah tidak terasa lagi. Apapun respon orang lain (termasuk pura-pura mendengarkan) saat kita re-telling problem, setidaknya segala hal yang kita ingin tuangkan terlaksana. Kita tidak perlu berharap solusi terbaik. Sudah ada yang mendengarkan juga syukurnya luar biasa karena setiap orang punya segudang kesibukannya masing-masing yang tentunya bukan kita yang mengatur.
Sekali lagi.
.
.
.
Re-telling problem
Bukan berbagi masalah.
Yang kemudian akan kita bahas adalah, bagaimana jika re-telling problem sudah terasa menjenuhkan. Rasanya sudah tidak ada feel bila didengar sesama manusia. Fenomena itu bisa saja terjadi karena segala hal ada batasnya. Ilustrasikan. Ketika seorang yang dikenal sabar namun suatu saat rasa kesabarannya sudah tak tersisa akibat mendapatkan perlakuan yang membuatnya sangat ingin marah maka marahnya patut diwaspadai. Lebih baik mendapat omelan dari seorang manusia yang memang memiliki sikap demikian dibanding orang yang tidak terbiasa dalam situasi itu. Dari ilustrasi itu dapat dipahami bahwa memang segala hal ada batasnya termasuk dunia ini. Pada hari akhir dunia akan hancur. Itu batasnya kan? Atau seorang manusia meninggal dunia. Itu batasnya kan? Apalagi? Masih banyak.
.
.
.
.
IYA. Masih banyak termasuk re-telling problem. Mungkin penyebabnya adalah seseorang ini sudah tidak percaya lagi. Tidak percaya lagi akan kekuatan re-telling problem yang akan menurunkan kadar beban yang ada di dalam diri. Selanjutnya adalah mencari kepada siapa lagi re-telling problem dilakukan. Anggap saja manusia yang sudah pada batas re-telling problem sesama manusia berinisial X.
Sore hari.
16:13 WIB.
Stasiun Kereta Api.
X masuk menuju kereta api dengan biasa. Sama seperti orang waras lainnya. Namun ada satu hal yang membuat pikirannya tidak stabil. Saat itu, dia sedang memikirkan masalahnya di kantor. Banyak tekanan yang sudah seminggu ia rasakan. Tekanan datang silih berganti seolah dirinya adalah tempat persinggahan tekanan. X merasakan kebingungan kemana dia mengadu. Sudah tak ada lagi keinginan untuk mengadu pada orang tuanya apalagi temannya sekalipun teman dekatnya.
Saat itu kereta penuh sesak. Tiba-tiba................... X melihat ada seorang ibu dengan kaki sedikit terpincang berjalan mencari tempat duduk kosong. Tak ada yang menawari ibu tua itu tempat duduk. Dengan melawan kebingungan yang sedang menghampirinya, X mempersilahkan ibu tua itu duduk di tempatnya. Melihat respon yang baik dari X, ibu tua itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya. Melihat senyum ibu tua itu, X tertegun. Alangkah leganya hati ini ketika melihat senyum itu. Senyum yang tulus. X merasa puas. X merasa bahagia karena senyuman itu. Tanpa X sadari kini beban yang sedang dipikul berkurang.
Beberapa waktu kemudian, X dihadapkan pada situasi yang kembali membuatnya sedikit melupakan kebingungannya. Ada seorang kakek yang kesulitan meletakkan tasnya ke bagian atas tempat penyimpanan barang di kereta. Sama kasusnya seperti ibu tua itu. Tak ada yang merespon. X langsung menghampiri bapak tua itu dan membantunya. Setelah itu, kakek tadi menghadiahi X senyuman dan ucapan terima kasih. X kembali tertegun. Rasa puas didapatkannya lagi. Rasa bahagia juga didapatkannya lagi. Senyum yang kedua ini berhasil menurunkan kadar beban yang sedang dipikul. Sudah hampir rata dengan tanah meskipun beban itu masih ada tapi X semakin plong.
Beberapa waktu kemudian, X kembali tertegun. Bukan karena senyuman tapi karena matahari. Matahari yang menuju senja. Jingganya agung. Indah. Karunia Tuhan itu membuat X puas. Membuat X bahagia. Dan karena matahari, beban X sekarang sudah rata dengan tanah.
Maha Besar Allah atas segala karunianya.
Teman.
Dari cerita di atas dapat ditarik simpulan bahwa sesungguhnya kehidupan ini sudah dirancang apik oleh Sang Kholik. Bagaimana kita bisa menjalani hidup ini dengan seimbang dan selaras. Saat kita diberikan nikmat kebahagiaan jangan terlena. Saat kita diberi kesengsaraan jangan mengeluh. Itu semua ujian. Ujian kehidupan yang akan kita tahu nilanya saat di hari akhir nanti.
Jangan khawatir jika kita merasa banyak masalah. Ada keluarga. Ada teman. Ada rekan kerja. Banyak orang yang mencintai kita sepenuh hati. Lakukan re-telling problem. Tak ada yang salah bila dicoba tetapi yang patut dan harus selalu diingat bahwa ada Allah yang selalu siap mendengarkan segala keluh kesah kita. Jadi, jika tadi dikatakan re-telling problem ada batasnya tapi jika kita re-telling problem langsung dengan Allah tak akan ada batasnya. Tak lagi hanya pura-pura mendengarkan tetapi benar-benar didengarkan.
You are not alone in this world.
0 comments:
Post a Comment