Wednesday, November 18, 2015

Sakit yang ku rasakan tak sebanding dengan sakitnya mereka yang telah sengaja dilupakan

Selamat pagi.

Pagi ini cukup hangat. Ditemani secangkir teh dan teriknya mentari yang menerangi bumi. Apa kabar di luar sana? Nampaknya keadaan di luar tidak sesempurna yang dibayangkan. Tengoklah. Lalu lalang kendaraan bermotor menghiasi jalan. Seperti kuda. Kencangnya membuat pusing kepala. Untungnya aku masih diberikan tempat yang nyaman untuk bekerja. Tidak seperti mereka yang harus rela bekerja di tengah cuaca yang tidak bersahabat. Keringat bercucuran. Lalu menguap begitu saja. Tak ada yang lebih berharga dari keluarga. Celotehnya begitu.

Aku masih menengok ke luar. Kemacetan kian parah terjadi. Tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Tak perlu mencaci maki pemerintah. Bersikap layaknya seorang yang dewasa yaitu mendoakan yang terbaik jikalau tak tau harus melakukan apa.

Tiga menit kemudian..

Ada yang aneh dengan kepalaku. Rasanya sakit. Pusing sekali. Apakah aku sakit? Diserang penyakit? Kekebalan tubuhku menurun? Atau bagaimana? Mungkin ada yang bisa membantuku untuk menemukan kebenarannya. Gejala ini sudah aku rasakan dari bangun tidurku di waktu shubuh. Kepalaku terasa sangat berat. Gejala itu berlanjut hingga aku berada di dalam kereta. Aku cukup bersyukur mendapatkan kesempatan duduk meskipun hanya sebentar saja. Setidaknya gejala itu akan pergi untuk sementara. Sampai kantor, gejala itu kian beraksi. Aku pejamkan mataku. Aku meratapi kondisiku.

Kata-kata hati :

  • Apakah aku akhirnya TUMBANG?
  • Apakah aku kecapek-an?
  • Apakah ini rasanya jika harus pulang pergi Bogor - Sunter selama hampir 4 bulan?
  • Apakah aku harus memeriksakan ini pada dokter?
Aku kesakitan.
Aku memang kesakitan.
Sakit yang ku rasakan tak sebanding dengan sakitnya mereka yang telah sengaja dilupakan.

-Ali Yakhya.

Sekian dan terimakasih.

0 comments:

Post a Comment