Tepat setiap tanggal 25 November, diperingati sebagai hari guru nasional. Di Indonesia, guru dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Anggapan tersebut menurutku sangat tepat ditunjukkan bagi beliau-beliau yang tiada duanya dalam hal pembentukan generasi cerdas bagi bangsa ini. Sumbangsihnya terhadap negara amatlah nyata. Tanpanya, generasi cerdas tak akan terlahir. Kita akan terus terkekang dalam dunia jahiliyah. Bukan begitu?
Baik, guru adalah sosok orang tua kedua di sekolah. Tak ada orang tua yang tak mencintai anaknya. Kecintaan guru terhadap muridnya sangat mudah dirasakan. Mereka tanpa kenal lelah dan letih terus berusaha mendidik anak muridnya demi menjadi manusia yang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama. Kepuasannya terbayar ketika visinya tercapai. Sebagai murid, tentunya kita harus bisa membalas kebaikan beliau meskipun kebaikannya tidak terhitung oleh jari.
Kita mengenal guru ketika sudah duduk di bangku TK atau bahkan PAUD. Di tingkat itu, guru benar-benar menjadi orang tua yang selalu mengemong anaknya hingga bisa melakukan sesuatu seperti temannya. Mengajari membaca, berhitung dan menulis. Setelah pandai ketiganya, kita mulai memasuki fase sekolah dasar dimana ilmu yang diajarkan sudah mulai berkembang. Jika diibaratkan sebuah pohonnya, kita mulai melihat ranting bermunculan. Enam tahun dididik menjadi anak yang baik dan berbakti. Hingga tiba saatnya, ranting-ranting itu sudah berdaun. Tak terasa, kita mulai memasuki fase SMP dimana biasanya di fase ini, kita bisa melihat siapa saja yang berubah menjadi lebih buruk, lebih baik atau tidak berubah. Dikarenakan pikiran kita sudah mulai remaja. Di masa remaja, labilitas menjadi hal yang biasa. Orang yang kalah dengan egonya akan berubah menjadi lebih buruk. Istilahnya "terbawa pergaulan". Misal, anak laki-laki SMP mulai ikut tawuran atau mulai mencoba rokok. Disini peran orang tua di rumah harus ditingkatkan karena guru SMP bukan lagi guru TK yang benar-benar seratus persen mengemong muridnya. Tiga tahun berlalu, penampilan kita mulai berubah dari ujung kaki ke ujung kepala. Pubertas menjadi sesuatu yang khas di fase ini. SMA. Yaa SMA yang katanya masa paling indah. Di fase ini, labilitas semakin tinggi. Orang tua wajib mengawasi anaknya karena anak belum sepenuhnya dewasa. Perhatian adalah hal utama yang harus dilakukan oleh orang tua di fase ini. Fase pencarian cinta monyet kalo menurutku. Sedangkan guru SMA sendiri juga berbeda dari SMP. Guru SMA selalu mendidik anak muridnya untuk bijak dan lebih dewasa dalam mengambil keputusan. Analisis resiko sudah mulai diajarkan di fase ini. Setelah SMA, lanjut ke perguruan tinggi. Dengan sebutan lain dari guru yaitu dosen. Tentunya universitas adalah tempat yang sangat berbeda dari sekolah. Di tempat ini usaha sangat dihargai. Di tempat ini pencarian jati diri biasanya terjadi.
Panjang lebar menjelaskan tentang guru, rasa terimakasih yang sangat besar tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan. Pembuktian rasa terimakasih dapat menggunakan cara sederhana. Sudah disinggung sebelumnya, menjadi manusia yang bermanfaat. Dengan ilmu yang telah diberikan, aplikasikan pada hal-hal yang tentunya bermanfaat. Salah satunya adalah bekerja.
Bekerja.
Seorang yang bekerja harus mempunyai kompetensi di bidangnya. Dasar ilmu yang telah diberikan oleh guru maupun dosen sangat menunjang kompetensi kita. Manfaatnya tentu saja berkontribusi terhadap perusahaan atau instansi kita bekerja.
Bekerja. Termasuk menjadi wakil rakyat atau bergelut di bidang politik. Ilmu etika harus dijalankan seimbang dengan ilmu akademisi agar tidak terjerat kasus KORUPSI.
Mari kita tutup dengan mengheningkan cipta.
Kan ku putar lagu hymne guru.
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
(Alm. Sartono)
0 comments:
Post a Comment